welcome note

SUMMARY ♡

Elio Aalto has spent most of his life at the edge of the rink, watching a world he was never allowed to enter. What once felt close slowly became something distant after an accident changed everything at home. While Elio stayed where he was, Soren Virel kept moving forward, growing into a skater who seemed to belong on the ice without question.

At sixteen, Elio finally steps onto the ice, long after everyone else has already begun. What starts as a quiet attempt to follow Soren turns into something more personal. As the distance between them shifts, Elio begins to understand that this was never just about catching up, but about finding a place that is finally his own.

HAPPY READING!

Thin Ice

scene i

Es yang Pertama Kali Bukan Miliknya

Elio pertama kali mengenal es bukan karena dirinya sendiri. Itu selalu tentang Soren. Tentang bagaimana anak itu berdiri di atas permukaan licin tanpa terlihat ragu, seolah-olah tubuhnya memang diciptakan untuk bergerak di sana. Pisau sepatunya menggores es dengan suara tipis yang berulang seperti sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu.

Elio duduk di bangku penonton yang dinginnya merambat pelan menembus celana, sampai ke kulit. Dia tidak pernah benar-benar sadar sejak kapan jemarinya berhenti bergerak, atau kapan napasnya mulai mengikuti setiap gerakan Soren di atas rink. Dia hanya menonton. Elio menonton terlalu fokus untuk anak seusianya.

“Some people step onto the ice. Others only learn how to breathe beside it.”
scene ii

Ajakan yang Datang Terlalu Mudah

Kadang Soren akan berhenti di dekat pembatas, membuka sarung tangan dengan gerakan terburu-buru, napasnya masih tersengal, pipinya merah karena udara dingin. “El, esnya lagi bagus banget hari ini,” katanya suatu kali, sambil menyenderkan siku di pembatas. “Sayang kalau cuma kamu tontonin sampai habis.”

Elio tidak langsung menjawab. Tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung lengan jaketnya sendiri, menariknya sedikit lebih rapat, seolah itu bisa menahan sesuatu yang tidak ingin keluar. Anak itu tidak mengetahui seberapa sakitnya kalimat yang baru saja dia lontarkan kepada Elio. Tidak sadar betapa inginnya Elio bermain dengan Soren di atas rink, namun tidak bisa.

“Aku jatuh nanti.”
“Aku pegangin.”

Jawabannya datang terlalu cepat seolah-olah ia sangat yakin atas ucapannya. Elio mengangkat pandangannya. Untuk sesaat, dia benar-benar mempertimbangkannya. Elio membayangkan satu langkah kecil ke atas es, berdiri di samping Soren, mencoba memahami dunia yang selama ini hanya dia lihat dari luar. Dia hampir berdiri.

Lalu jemarinya mengendur. Pandangannya turun lagi ke lantai putih yang terlalu terang. Selalu ada sesuatu yang menahannya. Bukan cuma takut. Lebih seperti perasaan bahwa dunia itu tidak pernah benar-benar disiapkan untuknya.

scene iii

Rumah yang Pernah Penuh Suara Baru

Jadi dia tetap di tempatnya dan menonton betapa indahnya Soren bermain di atas es. Dan entah bagaimana, itu terasa seperti peran yang sudah dia pahami dengan baik. Kakaknya pernah berdiri di sana juga. Tidak sehalus Soren, tidak seanggun itu, tapi cukup untuk membuat orang-orang berhenti lebih lama dari biasanya. Cukup untuk membuat ibunya tersenyum dengan cara yang jarang Elio lihat.

Elio tahu sekali, itu adalah simbol senyum yang bangga akan suatu hal. Untuk sementara waktu, rumah mereka dipenuhi suara-suara baru. Jadwal latihan ditempel di kulkas. Sepatu skating diletakkan sembarangan di dekat pintu. Percakapan makan malam berubah menjadi hal-hal yang Elio tidak sepenuhnya mengerti, tapi tetap dia dengarkan.

Tanpa sadar, es mulai terasa lebih dekat. Seperti sesuatu yang mungkin, suatu hari nanti, bisa dia sentuh.

scene iv

Hal yang Tidak Dijelaskan Sampai Tuntas

Sampai suatu hari, semuanya berhenti. Tidak ada yang benar-benar menjelaskan dengan jelas. Hanya ada panggilan telepon di sore hari, suara ibunya yang berubah terlalu cepat, dan udara rumah yang mendadak terasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang tidak terlihat tapi memenuhi setiap sudut ruangan.

Elio berdiri di ambang pintu. Tangannya menggantung di samping tubuhnya, kaku, sementara dari dalam dia mendengar suara yang tidak dia kenali. Kakaknya pulang lebih cepat dari seharusnya. Langkahnya tidak lagi sama.

Sejak saat itu, es berubah menjadi sesuatu yang tidak boleh disentuh.

“Cukup satu orang saja,” kata ibunya suatu malam, tanpa menatapnya. Suaranya pelan, tapi tidak memberi ruang untuk dibantah. “Kita tidak perlu mengulang itu lagi.”

Elio membuka mulutnya, sedikit. Lalu menutupnya kembali. Tangannya kembali mencengkeram ujung lengan bajunya, lebih kuat kali ini, sampai buku-buku jarinya memutih. Tapi tidak ada kata yang keluar. Dia hanya berhenti bertanya.

scene v

Menjadi Ahli dalam Jarak

Dan Soren tetap meluncur. Lebih cepat dan lebih jauh. Seolah tidak ada yang pernah benar-benar berubah. Sesekali dia masih menoleh ke arah bangku penonton ke arah Elio dengan kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang. Tapi Elio sudah belajar sesuatu yang baru.

Dia mulai memperhatikan hal-hal kecil. Cara kaki Soren sedikit goyah sebelum mendarat dari lompatan. Cara bahunya turun sepersekian detik terlalu cepat saat berputar. Goresan tipis yang tidak lurus sempurna di atas es, hal-hal yang mungkin tidak dilihat orang lain. Itu satu-satunya cara dia mendekat. Tanpa harus benar-benar masuk.

Dan lama-lama, Elio jadi sangat ahli dalam satu hal. Berdiri di pinggir, menonton, dan berpura-pura itu sudah cukup.

“He became fluent in nearness without touch, in devotion without permission.”