Thin Ice
Es yang Pertama Kali Bukan Miliknya
Elio pertama kali mengenal es bukan karena dirinya sendiri. Itu selalu tentang Soren. Tentang bagaimana anak itu berdiri di atas permukaan licin tanpa terlihat ragu, seolah-olah tubuhnya memang diciptakan untuk bergerak di sana. Pisau sepatunya menggores es dengan suara tipis yang berulang seperti sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Elio duduk di bangku penonton yang dinginnya merambat pelan menembus celana, sampai ke kulit. Dia tidak pernah benar-benar sadar sejak kapan jemarinya berhenti bergerak, atau kapan napasnya mulai mengikuti setiap gerakan Soren di atas rink. Dia hanya menonton. Elio menonton terlalu fokus untuk anak seusianya.
Ajakan yang Datang Terlalu Mudah
Kadang Soren akan berhenti di dekat pembatas, membuka sarung tangan dengan gerakan terburu-buru, napasnya masih tersengal, pipinya merah karena udara dingin. “El, esnya lagi bagus banget hari ini,” katanya suatu kali, sambil menyenderkan siku di pembatas. “Sayang kalau cuma kamu tontonin sampai habis.”
Elio tidak langsung menjawab. Tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung lengan jaketnya sendiri, menariknya sedikit lebih rapat, seolah itu bisa menahan sesuatu yang tidak ingin keluar. Anak itu tidak mengetahui seberapa sakitnya kalimat yang baru saja dia lontarkan kepada Elio. Tidak sadar betapa inginnya Elio bermain dengan Soren di atas rink, namun tidak bisa.
“Aku pegangin.”
Jawabannya datang terlalu cepat seolah-olah ia sangat yakin atas ucapannya. Elio mengangkat pandangannya. Untuk sesaat, dia benar-benar mempertimbangkannya. Elio membayangkan satu langkah kecil ke atas es, berdiri di samping Soren, mencoba memahami dunia yang selama ini hanya dia lihat dari luar. Dia hampir berdiri.
Lalu jemarinya mengendur. Pandangannya turun lagi ke lantai putih yang terlalu terang. Selalu ada sesuatu yang menahannya. Bukan cuma takut. Lebih seperti perasaan bahwa dunia itu tidak pernah benar-benar disiapkan untuknya.
Rumah yang Pernah Penuh Suara Baru
Jadi dia tetap di tempatnya dan menonton betapa indahnya Soren bermain di atas es. Dan entah bagaimana, itu terasa seperti peran yang sudah dia pahami dengan baik. Kakaknya pernah berdiri di sana juga. Tidak sehalus Soren, tidak seanggun itu, tapi cukup untuk membuat orang-orang berhenti lebih lama dari biasanya. Cukup untuk membuat ibunya tersenyum dengan cara yang jarang Elio lihat.
Elio tahu sekali, itu adalah simbol senyum yang bangga akan suatu hal. Untuk sementara waktu, rumah mereka dipenuhi suara-suara baru. Jadwal latihan ditempel di kulkas. Sepatu skating diletakkan sembarangan di dekat pintu. Percakapan makan malam berubah menjadi hal-hal yang Elio tidak sepenuhnya mengerti, tapi tetap dia dengarkan.
Tanpa sadar, es mulai terasa lebih dekat. Seperti sesuatu yang mungkin, suatu hari nanti, bisa dia sentuh.



